Ketika Corona di Beranda
"Mbak, aku positif covid-19, ini mau berangkat karantina, tolong jaga yang di rumah ya.." suara adikku di telp. "Hah..." terkejut aku, lebih tepatnya shock. Aku masih masa pemulihan karena sakit lambungku, jadi badan masih lemas. Bahkan naik motor sendiripun belum berani.
Aku panik, karena di rumah adikku selain keluarga kecilnya ada ibuku yang punya penyakit diabetes, ada kakakku yg beberapa bulan lalu kena serangan jantung.
Walaupun kakakku tidak tinggal disana, tapi setiap hari dia dan istrinya yg ngurusi ibu dan keponakan yg masih balita.
Ting.
Pemberitahuan M-Banking masuk.
Ting.
Wa dari adikku masuk .
"Sudah kutransfer mbak, belikan alkohol, masker, vitamin dan lain-lain. Untuk di rumahku, dirumah mbak juga."
"Oke."
Badanku yang lemas, terasa makin lemas, tapi aku gak boleh ngedrop lagi. Setelah kubuat daftar belanja, diantar suamiku ke Apotek dan Mini market. Kubeli apa yang dibutuhkan untuk isolasi mandiri.
Didalam rumahpun kami memakai masker, tidak boleh minum dari gelas yang sama, padahal selama ini kami biasa berbagi minuman (segelas rame-rame). Anakku yg biasa langsung peluk emaknya ketika bangun tidur mulai hari itu tak kuijinkan "eits, jaga jarak, kita tidak tahu apakah ada yg otg diantara kita."
Malam itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sepanjang malam kumohon kepada pemilik kehidupan ini, untuk kesembuhan adikku, dan kami terhindar dari korona.
Pagi, suamiku bekerja dari rumah, walaupun kami belum tahu status kami, tapi kami berusaha tidak melakukan kontak dengan orang lain.
Ku liburkan dulu jualan onlineku.
Ya, selama ini aku jualan makanan secara online. Aku menyiapkan makanan sehat dan vitamin. Semua kupaksa makan sayur dan buah, tidak boleh minum air dingin. Yah, aku hanya berusaha menjaga imunitas tubuh jangan sampai ada yang jatuh sakit.
Beberapa hari ini hujan mengguyur kota kami, hawanya pun dingin. Si sulung yang alergi dingin, malam itu batuk-batuk terus, sampai menjelang subuh baru bisa tidur. Dan sepanjang malam aku dilanda kecemasan, tidak berhenti hati ini memohon padaNya jangan sampai ada diantara kami yang terkena, karena kunjungan adik ke rumahku beberapa hari sebelumnya.
Bukan hanya masalah sakitnya yang kukawatirkan, tapi juga masalah biaya. Kalau kami harus tes rapid, biaya minimal yang dikeluarkan 200.000 x 5, terus kalo harus swab 1.250.000 x 5.
"Ya ...Tuhan, kemana aku harus nyari uang segitu, sementara buat makan aja sudah pas-pas an." Itu yang kupikirkan.
Selama 3 hari pertama masa isolasi mandiri, aku memenuhi kebutuhan ibu dan keluarga adikku hanya sampai di teras. Sedih rasanya melihat ibuku dari jauh dan hanya bisa melambaikan tangan. Kutahan airmataku sambil tertawa menyapa ibuku dari jauh.
Ketika hasil swab ibu, ipar dan keponakan-keponakan keluar dan hasilnya negatif, lega banget rasanya.
Setidaknya aku sudah bisa masuk ke rumah itu, walaupun tetap dengan protokol covid. Keponakan-keponakan tetap tidak boleh keluar dari pagar. Beruntung halamannya luas, mainan mereka banyak, jadi mereka tidak bosan. Dan bersyukur sekali para krucil itu suka pake masker, dan tidak memaksa minta main keluar pagar.
Menunggu swab kedua seminggu berikutnya. Aku sudah bisa masuk ke rumah itu, tapi masih menjaga jarak dan memakai masker. Adikku yang dikarantinapun kondisinya semakin membaik. "Terimakasih Tuhan " kata syukur itu terus kupanjatkan.
Dirumahku sendiripun, 3M tetap kami lakukan, selalu kutegaskan pada anak-anak, "ini kebiasaan baru kita, lakukan 3M."
Diwaktu senggangku, kubikin lagi beberapa masker kain 3 lapis, agar bisa diisi tissu dibagian tengahnya. Karena, gak akan cukup uang belanjaku kalau harus beli masker terus.
Selalu kusiapin buah Pepaya dan nanas untuk cemilan anak-anak. Gak perlu buah yang mahal, yang penting kandungan vitaminnya.Kubiasakan anak-anak minum madu dan air hangat. Kalo tidak sempat jogging, kamipun jogetan didalam rumah sampai berkeringat.
Ya, kami berusaha apapun yang bisa kami lakukan agar tidak tertular korona. Ibaratnya korona sudah diberanda, jangan sampai dia masuk ke rumah.Begitulah aku memahaminya, memberikan pemahaman itu kepada anak-anak, supaya disiplin melakukan 3M dengan kesadaran bukan paksaan.
Dan selalu berdoa semoga korona ini segera pergi, ketaknyamanan ini segera berakhir. Agar kami bisa beraktivitas seperti semula.
Amin.
Belum ada Komentar untuk "Ketika Corona di Beranda"
Posting Komentar